Total Tayangan Halaman

Kamis, 01 Maret 2012

Community - Based Tourism


CBT (Community – Based Tourism) yaitu konsep pengembangan suatu destinasi wisata melaui pemberdayaan masyarakat lokal, dimana masyarakat turut andil dalam perencanaan, pengelolaan, dan pemberiaan suara berupa keputusan dalam pembangunannnya.  Ada tiga kegiatan pariwisata yang dapat mendukung konsep CBT yakni penjelajahan (adventure travel), wisata budaya (cultural tourism), ekowisata (ecotourism).


 
        Menurut Bank Dunia konsep CBT akan melibatkan pula masyarakat dalam proses pembuatan keputusan khususnya terkait dengan perolehan pendapatan, kesempatan kerja, serta pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan pariwisata. Konsep CBT juga merupakan implementasi ekonomi kerakyatan di sektor riil, yang langsung dilaksankan dan dinikmati oleh masyarakat sendiri.
 Adapun Definisi lain dari CBT yaitu merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola dan diawasi oleh masyarakat setempat. Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati oleh masyarakat setempat. Jadi dalam hal ini masyarakat memiliki wewenang yang memadai untuk mengendalikan kegiatan ekowisata. (Nugroho, 2011)
Biasanya konsep CBT diterapkan atau diaplikasikan pada suatu kawasan yang memiliki daya tarik wisata seperti desa wisata Cikidang, destinasi wisata alam Tangkuban Perahu, destiansi wisata sejarah Gua Pawon, maupun Resort dll.      

Gua Pawon nan Eksotis

     Gua Pawon adalah tempat yang penting bagi orang sunda karena di sana  pernah ditemukan fosil kerangka manusia purba yang konon merupakan nenek moyang orang sunda. Gua ini terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, atau sekitar 25 km arah Barat Kota Bandung.

         Terletak di ketinggian 601 mdpl (meter di atas permukaan laut), Goa Pawon berada di puncak bukit Pawon yang merupakan daerah penambangan batu kapur, dan pada zaman dahulu merupakan  tepian Danau Bandung Purba. Berdasarkan hasil survai A.C. De Yong dan G.H.R. Von Koenigswald tahun 1930-1935,  ditemukan alat-alat budaya masa lalu dari bahan obsidian, kalsidon, kwarsit, rijang dan andesit berupa anak panah, pisau, penyerut, gelang batu, batu asah dari Jaman Preneolitik, yang hidupnya mulai menetap di gua-gua atau ceruk atau sering kali dijumpai di kawasan perbukitan gamping. Goa Pawon sendiri memiliki panjang 38 m dan lebar 16 m, sedangkan tinggi atap gua tidak dapat diketahui secara pasti karena saat ditemukan bagian atap gua sudah runtuh.
      
       Wonderfull and exotic place, itulah kalimat pertama yang saya ucapkan begitu saya pertama kali datang kesini pada saat melakukan observasi. Namun sayangnya popularitas Gua Pawon sendiri sebagai destinasi wisata masih jauh dari komoditas utama sebagaimana tujuan wisata. untuk itu, perlu adanya revitalisasi guna meningkatkan kunjungan wisatawan. Penulis melihat adanya potensi yang sangat besar, karena terdapat situs purbakala manusia purba zaman purba disini, selain itu adanya batuan berupa karts  yang selalu dimanfaatkan oleh komunitas pecinta alam. Adapun beberapa fauna khas yang akan sering dijumpai bilamana wisatawan berkunjung ke tempat ini yakni kera, kelelawar dan biawak.
        
        Bagi masyarakat kota bandung khususnya para pelajar, saya merekomendasikan Gua Pawon sebagai objek riset maupun observasi. karena kawasan ini sangat tepat untuk didajikan kawasan penelitian guna terciptanya sustainable tourism. Selain itu, telah ada perhatian dari dari pemerintah untuk melakukan revitalisasi Gua Pawon dari segi sarana dan prasarana untuk memudahkan para wisatawan yang akan berkunjung ke kawasan ini. Disisi lain, Sekretaris Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Soeroso MP mengatakan, usulan agar Gua Pawon menjadi warisan dunia telah dilayangkan sejak 2009. ”Gua Pawon sangat layak menjadi cagar alam warisan dunia karena memiliki berbagai kelebihan. Fosil-fosil penghuni Gua Pawon dinilai langka. Ada pula Karst Citatah,” jelasnya kepada Seputar Indonesia seusai seminar ”Pelestarian Kawasan Kota Lama Braga” di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung,kemarin. Dengan ditetapkannya situs Gua Pawon sebagai warisan dunia, pemerintah berharap kepedulian dan pelestariannya tidak hanya datang dari masyarakat Indonesia, melainkan juga dari seluruh dunia. 

        Semoga kedepannya destinasi wisata Gua Pawon ini akan berkembang dengan baik, sehingga dapat dimanfatkan dan dilestarikan sebagai kawasan wisata berbasis edukasi. Berikut beberapa dokumentasi yang saya abadikan.

    


      


Sumber : http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=89&lang=
               http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=493&cpage=1#comment-1100