Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 September 2013

Pergeseran Paradigma Pariwisata Internasional (Mass Tourism to Ecotourism)

       Di tengah dinamika sosial ekonomi dunia, ditandai krisis ekonomi dunia, globalisasi dunia yang belum tuntas, kenaikan harga minyak dunia, telah berkembang suatu jenis jasa wisata yang memberi jaminan bagi terciptanya kesejahteraan. Sektor usaha tersebut dikenal dengan ecotourism atau ekowisata. Menurut The International Ecotourism Society atau TIES (1991), ekowisata adalah perjalanan ke wilayah-wilayah alami dalam rangka mengkonservasi atau menyelamatkan lingkungan dan memberi penghidupan penduduk lokal.
    Menurut hemat saya, hal ini disebabkan karena wisatawan seringkali merasa bosan dan jenuh (annoyance) dengan pariwisata massal yang bersifat rekreasi biasa. Mereka ingin mendapatkan kualitas dan jasa dari jenis pariwsata baru yakni ekowisata atau bisa juga di sebut wisata minat khusus. Karena mereka yang melakukan ekowisata cenderung untuk mendalami suatu kajian (something), seperti penelitian flora dan fauna, tanah, sulvikultur, geographic, tanah, air, dan sebagainya yang bersifat education.
       Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari 17.5008 pulau memiliki potensi dan kekayaan alam yang bernilai tinggi dalam pasar industri wisata alam, khususnya ekowisata karena Indonesia sendiri berada pada Rainforest Geographic. Indoensia  merupakan salah satu negara paling kaya dengan keanekaragaman hayati (biodiversity) paling komplit ke tiga di dunia setelah Brazil dan Zaire. Selain itu Indonesia memiliki garis pantai paling panjang di dunia yakni 80.791 KM dengan cakupan laut seluas 3,1 juta KM2, dengan berbagai macam terumbu karang yang paling komplit  atau lebih dari 75% terumbu karang yang ada di dunia, (Amazing potential of Indonesia).
       Sebagai bentuk wisata yang trend, ekowisata memiliki kekhususan tersendiri yaitu mengedepankan konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, kesejahteraan penduduk lokal dan menghargai budaya lokal. Taman nasional sebagai kawasan pelestarian alam yang memiliki potensi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang melimpah menjadi salah satu bagian pengembangan ekowisata. Taman nasional yang menawarkan wisata ekologis banyak diminati wisatawan, hal ini karena adanya pergeseran paradigma kepariwisataan internasional dari bentuk pariwisata massal (mass tourism) ke wisata minat khusus yaitu ekowisata (Nugroho, 2011: 3). Perhatikan skema berikut.
Sumber: Penulis (2013)

      Kelembagaan ekowisata diluar wilayah taman nasional juga dapat dikembangkan. Wilayah tujuan ekowisata tersebut biasanya memiliki karakteristik konservasi yang kuat baik dari aspek sosial maupun lingkungannya. Kearifan, pengalaman, dan nilai-nilai budaya sedemikian menyatu dengan lingkungan untuk mendukung kehidupan ekonomi. Wilayah tujuan ekowisata itu dapat menjadi bagian dari ekosistem pesisir, lautan, hutan atau daratan di sekitar kawasan konservasi, desa atau wilayah yang memiliki nilai-nilai khas yang harus diwariskan untuk generasi mendatang. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar